PENDAHULUAN
Dermatitis adalah peradangan kulit (epidermis dan dermis) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen dan atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, likenifikasi) dan keluhan gatal. Dermatitis kontak adalah reaksi fisiologik yang terjadi pada kulit karena kontak dengan substansi tertentu, dimana sebagian besar reaksi ini disebabkan oleh iritan kulit (dermatitis kontak iritan) dan sisanya disebabkan oleh alergen (dermatitis kontak alergi) yang merangsang reaksi alergi. Dermatitis kontak iritan merupakan inflamasi pada kulit yang bermanifestasi sebagai eritema, edema ringan dan pecah-pecah. DKI merupakan respon non spesifik kulit terhadap kerusakan kimia langsung yang melepaskan mediator-mediator inflamasi yang sebagian besar berasal dari sel epidermis.
Istilah dermatitis kontak iritan atau iritasi menunjukkan suatu reaksi yang berubah terhadap suatu bahan tertentu yang tidak melibatkan sistem imun tubuh dapat terjadi pada setiap orang, dan ada beberapa faktor-faktor tertentu yang memegang peranan seperti keadaan permukaan kulit, lamanya bahan bersentuhan dengan kulit, usia pasien, adanya oklusi dan konsentrasi dari bahan. Gejalanya eritema (kemerahan) dan vesikulasi (berair), disertai rasa gatal dan panas. Dermatitis kontak iritan ini dapat terjadi akibat pemakaian kosmetik, terutama yang mengandung bahan bersifat asam, basa, dan abrasif.
Adakalanya suatu bahan kimiawi menyebabkan suatu respons iritasi pads kulit; sebagai contoh : sabun, jika disertai dengan mencuci berulang-ulang dapat menyebabkan iritasi kulit.
Hal-hal yang dapat menyebabkan iritasi:
1.REAKSI KULIT TERHADAP BAHAN PENGAWET
Reaksi kulit terhadap bahan pengawet yang terdapat di dalam kosmetika dan obat-obat oles, dapat berupa dermatitis (eksema) dengan tanda-tanda kulit kering, bersisik, merah, berlepuh sampai basah atau retak-retaknya kulit. Reaksi bisa ringan atau berat dan biasanya disertai dengan rasa terbakar dan gatal.
Reaksi dapat timbul sebagai urtika atau kadang-kadang berupa pembengkakan lokal. Sering terjadi timbulnya reaksi kulit pada pemakaian pertama kali dari obat oles atau kosmetika pada kulit yang terluka
atau sedang mengalami iritasi.
2.REAKSI KULIT TERHADAP SABUN DAN DETERGEN
Reaksi kulit terhadap pemakaian sabun dan detergen dapat terjadi berdasarkan iritasi kulit akibat pemakaian yang berlebihan. Terjadinya iritasi kulit oleh pemakaian sabun kemungkinan disebabkan oleh sifat alkalis sabun disertai dengan daya menghapus minyak dari kulit dan sifat iritasi dari asam lemak.
Pernah dilaporkan terjadinya depigmentasi kulit oleh pemakaian sabun yang mengandung fenol. Sabun sebagai iritan utama dapat merupakan faktor yang memperlambat penyembuhan dari eksema pada tangan. Untuk menghindari reaksi iritasi ini, kurangi pemakaian sabun.
3.SALAH KOSMETIK SEBABKAN IRITASI KULIT
Kulit yang wajah sensitif cepat sekali memberikan reaksi iritasi jika salah dalam merawatnya. Biasanya, kulit wajah yang sensitif akan cepat memerah jika kosmetika yang dipakai tidak cocok. Terasa pedih dan kemudian akan muncul bintik-bintik merah yang mengakibatkan kulit menjadi mudah teriritasi. Alkohol yang terkandung dalam kosmetik biasanya sering menyebabkan iritasi.
Iritan
Iritan adalah substansi yang akan menginduksi dermatitis pada setiap orang jika terpapar pada kulit: dalam konsentrasi yang cukup, pada waktu yang sufisien dengan frekuensi yang sufisien. Masing-masing individu memiliki predisposisi yang berbeda terhadap berbagai iritan, tetapi jumlah yang rendah dari iritan menurunkan dan secara bertahap mencegah kecenderungan untuk meninduksi dermatitis.
Zat-zat iritan
Zat-zat iritan mempunyai efek eritem, mengeringkan dan peeling.
Zat-zat iritan golongan kemikal. Zat-zat tersebut dapat dalam bentuk larutan, bedak kocok, kompres, pasta, krem dan bahan pembersih (cleansing preparation).
1. Sulfur
Dapat berupa unsur (elemental) sulfur atau ikatan (compound) sulfur. Menurut Mills dan Kligman (1972) unsur sulfur bersifat komedogenik.
2. Resorsin
Konsentrasi resorsin 1 — 10%, pemakaian bahan ini berkurang setelah dikenal benzoil peroksida.
3. Asam salisilat
Asam salisilat selain sebagai iritan juga mempunyai sifat keratolitik pada konsentrasi di atas 3%.
4. Sabun abrasif
5. Astringen
Aluminium sulfas dalam alkohol atau akua rosari.
6. Asam vitamin A (asam retionik, tretinoin) mempunyai efek sebagai iritan
7. Benzoil peroksida
mempunyai efek sebagai iritan
8.Sebagian besar pestisida dapat menyebabkan dermatitis kontak iritan, terutama bila bahan tersebut digunakan dalam konsentrasi yang tinggi dengan/tanpa memakai pelindung yang adekuat. Di antaranya fungisida seperti copper sulfat, barium polysulfide, thiophanat methyl, chlorthalonil dan captafol dikenal sebagai bahan iritan.
mekanisme iritasi
Dermatitis kontak iritan atau iritasi merupakan kelainan sebagai akibat pajanan dengan bahan toksik non-spesifik yang merusak epidermis dan/atau dermis. Umumnya setiap orang dapat terkena, bergantung pada kapasitas toleransi kulitnya. Penyakit tersebut mempunyai pola monofasik, yaitu kerusakan diikuti dengan penyembuhan.
Dermatitis kontak iritan dapat terjadi melalui dua jalur: efek langsung iritan terhadap keratinosit dan kerusakan sawar kulit. Efek langsung iritan pada keratinosit, pada iritasi akut, penetrasi iritan melewati sawar kulit akan merusak keratinosit dan merangsang pengeluaran mediator inflamasi diikuti dengan aktivasi sel T. Selanjutnya terjadi akumulasi sel T dengan aktivasi tidak lagi bergantung pada penyebab. Hal tersebut dapat menerangkan kesamaan jenis infiltrat dan sitokin yang berperan antara Dermatitis kontak Iritan dan Dermatitis Kontak Alergi. Peradangan hanya merupakan salah satu aspek sindrom iritasi. Apabila terjadi pajanan dengan konsentrasi suboptimal maka reaksi yang terjadi langsung kronik.
Stratum korneum atau kulit ari merupakan sawar kulit yang sangat efektif terhadap berbagai bahan iritan karena pembaharuan sel terjadi secara berkesinambungan dan proses penyembuhan berlangsung cepat. Apabila waktu pajanan lebih pendek daripada waktu penyembuhan, sehingga sel-sel keratinosit tidak sempat sembuh, maka akan terjadi gejala klinis iritasi kumulatif. Kerusakan sawar lipid berhubungan dengan kehilangan daya kohesi antar korneosit dan deskuamasi diikuti dengan peningkatan trans-epidermal water loss (TEWL). Hal tersebut merupakan rangsangan untuk memacu sintesis lipid, proliferasi keratinosit dan hiperkeratosis sewaktu transient sehingga dapat terbentuk sawar kulit dalam keadaan baru.
Anti-Iritasi
Anti-iritasi adalah aspek vital dari formula perawatan kulit. Apapun penyebabnya, iritasi adalah permasalahan untuk semua jenis kulit, namun sangat sulit untuk dihindari. Entah karena matahari, kerusakan oksidatif dari polusi, atau dari produk perawatan kulit yang digunakan, iritasi dapat menjadi permasalahan terus-menerus bagi kulit. Ironisnya, bahkan bahan-bahan yang di butuhkan seperti zat-zat tabir surya, pengawet, exfoliant kulit, dan zat-zat pembersih dapat menyebabkan iritasi. Bahan-bahan lain, seperti pewangi, methol, dan ekstrak tanaman yang menyebabkan kulit sensitif, adalah penyebab utama iritasi dan umumnya tidak memberikan hasil yang menguntungkan bagi kulit jadi penggunaan zat-zat ini tidak berguna,setidaknya jika serius ingin menciptakan dan mempertahankan kulit yang sehat.
Anti-iritasi sangat membantu karena memberikan waktu penyembuhan bagi kulit dan mengurangi permasalahan oksidatif dan sumber kerusakan eksternal. Anti-iritasi seperti Metil salisilat bekerja sebagai anti iritan lokal dan mampu berpenetrasi sehingga menghasilkan efek analgesik.
PENGOBATAN
Upaya pengobatan dermatitis kontak iritan yang terpenting adalah menyingkirkan pajanan bahan iritan, baik yang bersifat mekanik, fisik maupun kimiawi. Bila hal ini dapat dilaksanakan dengan sempurna, dan tidak terjadi komplikasi, maka dermatitis iritan tersebut akan sembuh dengan sendirinya tanpa pengobatan topikal, mungkin cukup dengan pelembab untuk memperbaiki kulit yang kering.
Apabila diperlukan, untuk mengatasi peradangan dapat diberikan kortikosteroid topikal, misalnya hidrokortison, atau untuk kelainan yang kronis bisa diawali dengan kortikosteroid yang lebih kuat.
Pemakaian alat pelindung yang adekuat diperlukan bagi mereka yang bekerja dengan bahan iritan, untuk mencegah kontak dengan bahan tersebut.
Selasa, 17 Mei 2016
INFLAMASI (PERADANGAN)
Inflamasi atau peradangan adalah upaya tubuh untuk perlindungan diri, tujuannya adalah untuk menghilangkan rangsangan berbahaya, termasuk sel-sel yang rusak, iritasi, atau patogen dan memulai proses penyembuhan. Kata inflamasi berasal dari bahasa Latin "inflammo", yang berarti "Saya dibakar, saya menyalakan".
Peradangan adalah bagian dari respon kekebalan tubuh. Ketika sesuatu yang berbahaya atau menjengkelkan mempengaruhi bagian dari tubuh kita, ada respon biologis untuk mencoba untuk menghapusnya, tanda-tanda dan gejala peradangan, peradangan akut khusus, menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Peradangan tidak berarti infeksi, bahkan ketika infeksi menyebabkan peradangan. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur, sedangkan peradangan adalah respon tubuh untuk itu.
PENYEBAB
Peradangan akut yaitu mulai dengan cepat (rapid onset) dan dengan cepat menjadi parah. Tanda dan gejala hanya hadir selama beberapa hari, namun dalam beberapa kasus dapat bertahan selama beberapa minggu.
Contoh penyakit, kondisi, dan situasi yang dapat menyebabkan peradangan akut meliputi: penyakit bronkitis akut, usus buntu akut, tonsilitis akut, infeksi meningitis akut, sinusitis akut, tumbuh kuku terinfeksi, sakit tenggorokan dari pilek atau flu, goresan/luka di kulit, latihan sangat intens, atau pukulan.
Peradangan kronik berarti peradangan jangka panjang, yang dapat berlangsung selama beberapa bulan dan bahkan bertahun-tahun. Hal ini dapat hasil dari:
Kegagalan untuk menghilangkan apa pun yang menyebabkan peradangan akut;
Sebuah respon autoimun terhadap antigen diri sendiri (sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat);
Sebuah iritasi kronik intensitas rendah yang bertahan.
Contoh penyakit dan kondisi dengan peradangan kronis meliputi: asma, ulkus peptikum kronik, TB, rheumatoid arthritis, periodontitis kronik, ulcerative colitis dan penyakit Crohn , sinusitis kronik, dan masih banyak lagi.
GEJALA
Terdapat lima tanda-tanda peradangan akut:
Nyeri - daerah yang meradang cenderung nyeri, terutama ketika disentuh. Daerah inflamasi menjadi lebih sensitif;
Kemerahan - karena kapiler yang diisi dengan lebih banyak darah dari biasanya;
Immobilitas - mungkin ada hilangnya beberapa fungsi, seperti tidak bergerak;
Pembengkakan - disebabkan oleh akumulasi cairan;
Panas - banyak darah di daerah yang terkena membuatnya terasa panas saat disentuh.
Ada juga lima tanda klasik dari peradangan. Berikut istilah latin yang telah dipakai selama 2000 tahun:
Dolor - istilah Latin untuk "sakit";
Kalor - istilah Latin untuk "panas";
Rubor - dalam bahasa Latin berarti "kemerahan";
Tumor - istilah Latin untuk "bengkak";
Functio laesa - dalam bahasa Latin berarti "fungsi cedera", yang juga bisa berarti hilangnya fungsi.
PENGOBATAN
Harus ingat bahwa peradangan merupakan bagian dari proses penyembuhan. Kadang-kadang mengurangi peradangan diperlukan, tetapi tidak selalu. Pengobatan dapat dengan obat anti-inflamasi, seperti ibuprofen, aspirin, atau kortikosteroid.
Memberikan es dengan membungkusnya dengan kain atau kantong es lalu diletakkan pada kulit di mana merupakan daerah inflamasi telah terbukti mengurangi peradangan. Atlet biasanya menggunakan pengobatan es untuk mengelola rasa sakit dan peradangan. Peradangan bisa berkurang lebih cepat jika beristirahat, menggunakan es kompres pada daerah yang terkena.
Peradangan adalah bagian dari respon kekebalan tubuh. Ketika sesuatu yang berbahaya atau menjengkelkan mempengaruhi bagian dari tubuh kita, ada respon biologis untuk mencoba untuk menghapusnya, tanda-tanda dan gejala peradangan, peradangan akut khusus, menunjukkan bahwa tubuh sedang berusaha untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Peradangan tidak berarti infeksi, bahkan ketika infeksi menyebabkan peradangan. Infeksi ini disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur, sedangkan peradangan adalah respon tubuh untuk itu.
PENYEBAB
Peradangan akut yaitu mulai dengan cepat (rapid onset) dan dengan cepat menjadi parah. Tanda dan gejala hanya hadir selama beberapa hari, namun dalam beberapa kasus dapat bertahan selama beberapa minggu.
Contoh penyakit, kondisi, dan situasi yang dapat menyebabkan peradangan akut meliputi: penyakit bronkitis akut, usus buntu akut, tonsilitis akut, infeksi meningitis akut, sinusitis akut, tumbuh kuku terinfeksi, sakit tenggorokan dari pilek atau flu, goresan/luka di kulit, latihan sangat intens, atau pukulan.
Peradangan kronik berarti peradangan jangka panjang, yang dapat berlangsung selama beberapa bulan dan bahkan bertahun-tahun. Hal ini dapat hasil dari:
Kegagalan untuk menghilangkan apa pun yang menyebabkan peradangan akut;
Sebuah respon autoimun terhadap antigen diri sendiri (sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat);
Sebuah iritasi kronik intensitas rendah yang bertahan.
Contoh penyakit dan kondisi dengan peradangan kronis meliputi: asma, ulkus peptikum kronik, TB, rheumatoid arthritis, periodontitis kronik, ulcerative colitis dan penyakit Crohn , sinusitis kronik, dan masih banyak lagi.
GEJALA
Terdapat lima tanda-tanda peradangan akut:
Nyeri - daerah yang meradang cenderung nyeri, terutama ketika disentuh. Daerah inflamasi menjadi lebih sensitif;
Kemerahan - karena kapiler yang diisi dengan lebih banyak darah dari biasanya;
Immobilitas - mungkin ada hilangnya beberapa fungsi, seperti tidak bergerak;
Pembengkakan - disebabkan oleh akumulasi cairan;
Panas - banyak darah di daerah yang terkena membuatnya terasa panas saat disentuh.
Ada juga lima tanda klasik dari peradangan. Berikut istilah latin yang telah dipakai selama 2000 tahun:
Dolor - istilah Latin untuk "sakit";
Kalor - istilah Latin untuk "panas";
Rubor - dalam bahasa Latin berarti "kemerahan";
Tumor - istilah Latin untuk "bengkak";
Functio laesa - dalam bahasa Latin berarti "fungsi cedera", yang juga bisa berarti hilangnya fungsi.
PENGOBATAN
Harus ingat bahwa peradangan merupakan bagian dari proses penyembuhan. Kadang-kadang mengurangi peradangan diperlukan, tetapi tidak selalu. Pengobatan dapat dengan obat anti-inflamasi, seperti ibuprofen, aspirin, atau kortikosteroid.
Memberikan es dengan membungkusnya dengan kain atau kantong es lalu diletakkan pada kulit di mana merupakan daerah inflamasi telah terbukti mengurangi peradangan. Atlet biasanya menggunakan pengobatan es untuk mengelola rasa sakit dan peradangan. Peradangan bisa berkurang lebih cepat jika beristirahat, menggunakan es kompres pada daerah yang terkena.
Penyakit Defisiensi Imun
Penyakit defisiensi imun adalah sekumpulan aneka penyakit yang karena memiliki satu atau lebih ketidaknormalan sistem imun, dimana kerentanan terhadap infeksi meningkat. Defisiensi imun primer tidak berhubungan dengan penyakit lain yang mengganggu sistem imun, dan banyak yang merupakan akibat kelainan genetik dengan pola bawaan khusus. Defisiensi imun sekunder terjadi sebagai akibat dari penyakit lain, umur, trauma, atau pengobatan.
Meskipun kemungkinan defisiensi imun harus dipikirkan pada seseorang yang sering mengalami infeksi, tetapi sejatinya penyakit imunodefiensi angka kejadiannya tidak tinggi. Karena itu selalu pertimbangkan kondisi lain yang membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi, seperti penyakit sickle cell, diabetes, kelainan jantung bawaan, malnutrisi, splenektomi, enteropati, terapi imunosupresif dan keganansan.
Penyebab
Penyebab defisiensi imun sangat beragam dan penelitian berbasis genetik berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 jenis defisiensi imun primer dan pola menurunnya terkait pada X-linked recessive, resesif autosomal, atau dominan autosomal (Tabel 28-1).
Meskipun kemungkinan defisiensi imun harus dipikirkan pada seseorang yang sering mengalami infeksi, tetapi sejatinya penyakit imunodefiensi angka kejadiannya tidak tinggi. Karena itu selalu pertimbangkan kondisi lain yang membuat seseorang lebih rentan terhadap infeksi, seperti penyakit sickle cell, diabetes, kelainan jantung bawaan, malnutrisi, splenektomi, enteropati, terapi imunosupresif dan keganansan.
Penyebab
Penyebab defisiensi imun sangat beragam dan penelitian berbasis genetik berhasil mengidentifikasi lebih dari 100 jenis defisiensi imun primer dan pola menurunnya terkait pada X-linked recessive, resesif autosomal, atau dominan autosomal (Tabel 28-1).
KERACUNAN BAHAN KIMIA
DEFINISI
Keracunan bahan kimia dalam makanan merupakan akibat dari memakan tanaman atau hewan yang mengandung racun.
KERACUNAN JAMUR (CENDAWAN)
Keracunan jamur dapat diakibatkan karena makan satu dari beberapa jenis dari jamur yang ada. Kekuatan racunnya bervariasi tergantung kepada:
- jenis jamur
- musim pertumbuhan jamur
- cara memasak jamur.
Pada keracunan yang disebabkan oleh Inocybe dan Clitocybe, bahan yang berbahaya adalah muskarin.
Gejala yang timbul beberapa menit sampai 2 jam setelah makan, bisa berupa:
- peningkatan produksi air mata dan air liur
- pupil yang mengecil
- berkeringat
- muntah
- kram perut
- diare
- pusing
- linglung
- koma
- kejang (kadang-kadang).
Dengan pengobatan yang tepat, biasanya akan terjadi penyembuhan dalam waktu 24 jam, meskipun bisa terjadi kematian dalam waktu beberapa jam. Keracunan faloidin yang disebabkan karena memakan Amanita phalloides, gejalanya timbul dalam 6-24 jam. Gejala-gejala saluran pencernaan yang timbul mirip dengan keracunan muskarin, dan kerusakan ginjal bisa menyebabkan berkurangnya produksi air kemih atau tidak ada sama sekali. Sakit kuning karena kerusakan hati akan muncul dalam 2-3 hari. Kadang-kadang gejala akan hilang dengan sendirinya, tetapi hampir 50% penderita akan meniggal dalam 5-8 hari.
KERACUNAN TANAMAN DAN SEMAK-SEMAK
Keracunan akibat tanaman dan semak-semak terjadi karena makan daun-daunan dan buah-buahan dari tanaman dan semak-semak liar. Akar hijau dan akar yang bertunas mengandung solanin, yang bisa menyebabkan mual ringan, muntah, diare dan kelemahan. Fava beans menyebabkan pemecahan sel-sel darah merah (favisme), biasanya merupakan kelainan yang diturunkan.
Keracunan ergot dapat disebabkan karena makan gandum yang tercemar oleh jamur Claviceps purpures. Buah dari pohon Koenig menyebabkan muntah Jamaika.
KERACUNAN MAKANAN LAUT
Keracunan makanan laut bisa disebabkan oleh ikan bertulang atau kerang. Biasanya keracunan ikan merupakan akibat dari 3 jenis racun, yaitu siguatera, tetraodon atau histamin. Keracunan siguatera dapat terjadi setelah makan salah satu dari ebih dari 400 jenis ikan dari pantai tropik di Florida, India Barat atau Pasifik.
Toksin dihasilkan oleh dinoflagelata, suatu organisme laut yang sangat kecil, yang dimakan oleh ikan dan terkumpul di dalam dagingnya. Ikan yang lebih besar dan lebih tua lebih berracun daripada ikan yang lebih kecil dan lebih muda. Gejala bisa dimulai dalam 2-8 jam setelah makan ikan. Kram perut, mual, muntah, dan diare dapat terjadi selama 6-17 jam. Selanjutnya akan timbul gatal-gatal, perasaan seperti tertusuk jarum, sakit kepala, nyeri otot, perasaan panas dan dingin yang silih berganti dan nyeri di daerah wajah.
Gejala dari keracunan tetraodon dari ikan puffer, yang paling banyak ditemukan di perairan Jepang, sama dengan keracunan siguareta. Kematian dapat terjadi akibat dari kelumpuhan otot-otot pernafasan. Keracunan histamin dari ikan makerel, tuna dan lumba-lumba biru (mahimahi), terjadi jika jaringan ikan yang rusak setelah ditangkap, menghasilkan histamin dalam jumlah yang besar.
Jika dimakan, histamin akan segera menyebabkan kemerahan di muka. Juga bisa timbul mual, muntah, nyeri perut dan kaligata (urtikaria) yang terjadi beberapa menit setelah makan ikan tersebut. Gejala-gejala tersebut biasanya berlangsung kurang dari 24 jam.
Dari Juni sampai Oktober, terutama di pantai Pasifik dan New England, kerang-kerangan (remis, remis besar, tiram) dapat memakan dinoflagelata yang mengandung racun. Dinoflagelata ini ditemukan dalam jumlah besar di lautan pada waktu-waktu tertentu, dimana air tampak berwarna merah, dan disebut pasang merah. Mereka menghasilkan toksin yang menyerang saraf (neurotoksin) dan menyebabkan keracunan kerang paralitik. Toksin ini akan tetap ada, bahkan setelah kerang tersebut dimasak.
Gejala awalnya berupa rasa tertusuk-tusuk jarum di sekitar mulut, dimulai dalam 5-30 menit setelah makan. Selanjutnya timbul
Senin, 16 Mei 2016
NILAI NORMAL PEMERIKSAAN DI LABORATORIUM
1. HB
(HEMOGLOBIN)
Hemoglobin adalah molekul di dalam
eritrosit (sel darah merah) dan bertugas untuk mengangkut oksigen. Kualitas
darah dan warna merah pada darah ditentukan oleh kadar Hemoglobin.
Nilai normal Hb :
Nilai normal Hb :
|
Wanita
|
12-16
gr/dL
|
|
Pria
|
14-18
gr/dL
|
|
Anak
|
10-16
gr/dL
|
|
Bayi
baru lahir
|
12-24gr/dL
|
Penurunan Hb terjadi pada penderita:
anemia penyakit ginjal, dan pemberian cairan intra-vena (misalnya infus) yang
berlebihan. Selain itu dapat pula disebabkan oleh obat-obatan tertentu seperti
antibiotika, aspirin, antineoplastik (obat kanker), indometasin (obat
antiradang).
Peningkatan Hb terjadi pada pasien
dehidrasi, penyakit paru obstruktif menahun (COPD), gagal jantung kongestif,
dan luka bakar. Obat yang dapat meningkatkan Hb yaitu metildopa (salah satu
jenis obat darah tinggi) dan gentamicin (Obat untuk infeksi pada kulit
2. TROMBOSIT
(PLATELET)
Trombosit adalah komponen sel darah
yang berfungsi dalam proses menghentikan perdarahan dengan membentuk gumpalan.
Penurunan sampai di bawah 100.000
permikroliter (Mel) berpotensi terjadi perdarahan dan hambatan perm-
bekuan darah. Jumlah normal pada tubuh manusia adalah 200.000-400.ooo/Mel
darah. Biasanya dikaitkan dengan penyakit demam berdarah.
3. HEMATOKRIT (HMT)
Hematokrit menunjukkan persentase
zat padat (kadar sel darah merah, dan Iain-Iain) dengan jumlah cairan darah.
Semakin tinggi persentase HMT berarti konsentrasi darah makin kental. Hal ini
terjadi karena adanya perembesan (kebocoran) cairan ke luar dari pembuluh darah
sementara jumlah zat padat tetap, maka darah menjadi lebih kental.Diagnosa DBD
(Demam Berdarah Dengue) diperkuat dengan nilai HMT > 20 %.
Nilai
normal HMT :
|
Anak
|
33
-38%
|
|
Pria
dewasa
|
40
– 48 %
|
|
Wanita
dewasa
|
37
– 43 %
|
Penurunan HMT terjadi pada pasien
yang mengalami kehilangan darah akut (kehilangan darah secara mendadak, misal
pada kecelakaan), anemia, leukemia, gagalginjal kronik, mainutrisi, kekurangan
vitamin B dan C, kehamilan, ulkuspeptikum (penyakit tukak lambung). Peningkatan
HMT terjadi pada dehidrasi, diare berat,eklampsia (komplikasi pada kehamilan),
efek pembedahan, dan luka bakar, dan Iain-Iain.
4. LEUKOSIT
(SEL DARAH PUTIH)
Leukosit adalah sel darah putih yang
diproduksi oleh jaringan hemopoetik yang berfungsi untuk membantu tubuh melawan
berbagai penyakit infeksi sebagai bagian dari sistem kekebalan tubuh. Nilai
normal :
|
Bayi
baru lahir
|
9000
-30.000 /mm3
|
|
Bayi/anak
|
9000
– 12.000/mm3
|
|
Dewasa
|
4000-10.000/mm3
|
Peningkatan jumlah leukosit (disebut
Leukositosis) menunjukkan adanya proses infeksi atau radang akut,misalnya
pneumonia (radang paru-paru), meningitis (radang selaput otak), apendiksitis
(radang usus buntu), tuberculosis, tonsilitis, dan Iain-Iain. Selain itu juga
dapat disebabkan oleh obat-obatan misalnya aspirin, prokainamid, alopurinol,
antibiotika terutama ampicilin, eritromycin, kanamycin, streptomycin, dan
Iain-Iain. Penurunan jumlah Leukosit (disebut Leukopeni) dapat terjadi pada
infeksi tertentu terutama virus, malaria, alkoholik, dan Iain-Iain. Selain itu
juga dapat disebabkan obat-obatan, terutama asetaminofen
(parasetamol),kemoterapi kanker, antidiabetika oral, antibiotika (penicillin,
cephalosporin, kloramfenikol), sulfonamide (obat anti infeksi terutama yang
disebabkan oleh bakter).
5. Hitung
Jenis Leukosit (Diferential Count)
Hitung jenis leukosit adalah
penghitungan jenis leukosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi (%)
tiap jenis leukosit dari seluruh jumlah leukosit. Hasil pemeriksaan ini dapat
menggambarkan secara spesifik kejadian dan proses penyakit dalam tubuh,
terutama penyakit infeksi. Tipe leukosit yang dihitung ada 5 yaitu neutrofil,
eosinofil, basofil, monosit, dan limfosit. Salah satu jenis leukosit yang cukup
besar, yaitu 2x besarnya eritrosit (se! darah merah), dan mampu bergerak aktif
dalam pembuluh darah maupun di luar pembuluh darah. Neutrofil paling cepat
bereaksi terhadap radang dan luka dibanding leukosit yang lain dan merupakan
pertahanan selama fase infeksi akut.
Peningkatan jumlah neutrofil
biasanya pada kasus infeksi akut, radang, kerusakan jaringan, apendiksitis akut
(radang usus buntu), dan Iain-Iain.
Penurunan jumlah neutrofil terdapat
pada infeksi virus, leukemia, anemia defisiensi besi, dan Iain-Iain.
a. EOSINOFIL
: Eosinofil merupakan salah satu jenis leukosit yang
terlibatdalam alergi dan infeksi (terutama parasit) dalam tubuh, dan jumlahnya
1 – 2% dari seluruh jumlah leukosit. Nilai normal dalam tubuh: 1 – 4% .
Peningkatan eosinofil terdapat pada kejadian alergi, infeksi parasit,
kankertulang, otak, testis, dan ovarium. Penurunan eosinofil terdapat
pada kejadian shock, stres, dan luka bakar.
b. BASOFIL
: Basofil adalah salah satu jenis leukosit yang jumlahnya 0,5
-1% dari seluruh jumlah leukosit, dan terlibat dalam reaksi alergi jangka
panjang seperti asma, alergi kulit, dan lain-lain.Nilai normal dalam tubuh: o
-1% . Peningkatan basofil terdapat pada proses inflamasi(radang), leukemia, dan
fase penyembuhan infeksi. Penurunan basofil terjadi pada penderita stres,
reaksi hipersensitivitas (alergi), dan kehamilan
c. LIMPOSIT
: Salah satu leukosit yang berperan dalam proses kekebalan dan
pembentukan antibodi. Nilai normal: 20 – 35% dari seluruh leukosit. Peningkatan
limposit terdapat pada leukemia limpositik, infeksi virus, infeksi kronik, dan
Iain-Iain. Penurunan limposit terjadi pada penderita kanker, anemia aplastik,
gagal ginjal, dan Iain-Iain.
d. MONOSIT
: Monosit merupakan salah satu leukosit yang berinti besar
dengan ukuran 2x lebih besar dari eritrosit sel darah merah), terbesar dalam
sirkulasi darah dan diproduksi di jaringan limpatik. Nilai normal dalam tubuh:
2 – 8% dari jumlah seluruh leukosit. . Peningkatan monosit terdapat pada
infeksi virus,parasit (misalnya cacing), kanker, dan Iain-Iain. Penurunan
monosit terdapat pada leukemia limposit dan anemia aplastik.
e. ERITROSIT
: Sel darah merah atau eritrosit berasal dari Bahasa Yunani
yaitu erythros berarti merah dan kytos yang berarti selubung. Eritrosit adalah
jenis se) darah yang paling banyak dan berfungsi membawa oksigen ke jaringan
tubuh. Sel darah merah aktif selama 120 hari sebelum akhirnya dihancurkan. Pada
orang yang tinggal di dataran tinggi yang memiliki kadar oksigen rendah maka
cenderung memiliki sel darah merah lebih banyak.
Nilai
normal : Pria : 4,6 – 6,2jt/mm3 I
Wanita : 4,2 – 5,4 jt/mm3
MAKALAH PHBS
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Kesehatan
merupakan kondisi dimana kita berada jauh atau terbebas dari penyakit.
Merupakan suatu yang mahal jika dibandingkan dengan hal-hal yang lain.
Bagaimana tidak, harta yang melimpah, memiliki paras tampan atau cantik,
memiliki badan tegap dan gagah, semuanya itu akan sirna dengan sekejap jika
kita terserang penyakit atau tidak sehat. Dengan penyakit harta bisa habis
digunakan untuk berobat, paras tampan atau cantik berubah menjadi pucat dan
tidak enak untuk dipandang, badan yang tegap dan gagah seketika roboh
dikarenakan lemas dan lesu akibat kondisi tubuh yang menurun drastis.
Beginilah
alur kehidupan, semuanya menjadi seimbang. Ada sehat dan ada sakit, kita tidak
akan selalu sehat dan kita juga tidak akan selalu sakit. Semuanya itu bagaimana
kita bisa menjaga diri untuk terhindar dari penyakit sehingga kesehatan itu
merupakan hal yang mutlak harus dijaga.
Mencegah
sakit adalah lebih mudah dan murah dari pada mengobati seseorang apabila jatuh
sakit. Salah satu cara untuk mencegah hal tersebut adalah dengan bergaya hidup
sehat. Gaya hidup sehat adalah segala upaya untuk menerapkan kebiasaan yang
baik dalam menciptakan hidup yang sehat dan menghindarkan kebiasaan buruk yang
dapat mengganggu kesehatan. Dengan semakin banyaknya penderita penyakit tidak
menular (degeneratif) seperti jantung, tekanan darah tinggi, kanker, stress dan
penyakit tidak menular lainnya yang disebabkan karena gaya hidup yang tidak
sehat, maka untuk menghindarinya kita perlu bergaya hidup yang sehat ,
Tidak jarang
istilah PHBS terdengar di masyarakat. Jika dilihat dari kepanjangannya yakni
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, tentu kita langsung mengetahui apa itu PHBS,
singkat kata mengenai perilaku seseorang menyangkut kebersihan yang dapat
mempengaruhi kesehatannya. Banyak penyakit dapat dihindari dengan PHBS, mulai
dari Diare, DBD, flu burung, atau pun flu babi yang akhir-akhir ini marak.
1.2 Rumusan Masalah
1.
Bagaimana
perilaku hidup bersih dan sehat ?
2.
Bagaimana
penerapan PHBS di tatanan pelayanan kesehatan ?
3.
Apa
tujuan PHBS di tatanan pelayanan kesehatan ?
4.
Apa
manfaat PHBS di tatanan pelayanan kesehatan ?
5.
Bagaimana promosi kesehatan PHBS ?
1.3
Tujuan Penulisan
1.
Mahasiswa
dapat mengetahui tentang perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)
2.
Mahasiswa
dapat mengetahui penerapan PHBS di tatanan pelayanan kesehatan
3.
Mahasiswa
dapat mengetahui tujuan PHBS di tatanan pelayanan kesehatan
4.
Mahasiswa
dapat mengetahui manfaat PHBS di tatanan pelayanan kesehatan
5.
Mahasiswa
dapat mengetahui tentang promosi kesehatan
BAB
II
PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori PHBS
Keadaan
sehat adalah kehendak semua pihak, tidak hanya di dominasi oleh perorangan,
akan tetapi juga harus dimiliki oleh kelompok dan bahkan oleh masyarakat. Dalam
UU Kesehatan RI No.36 Tahun 2009, “ Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara
fisik, mental, spritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk
hidup produktif secara sosial dan ekonomis”. Hal ini berarti bahwa kesehatan
pada diri seseorang atau individu itu mencakup aspek fisik, mental, spiritual
dan sosial demi tercapainya keadaan yang sejahtera bagi seseorang baik dengan
produkivitasnya dan juga ekonominya.
Sejalan
dengan itu menurut Bloom (1974), derajat kesehatan dipengaruhi oleh 4 faktor
yaitu faktor lingkungan, faktor perilaku, faktor keturunan dan
faktor pelayanan kesehatan. Dari ke-4 faktor tersebut, faktor ke-2 yaitu faktor
perilaku sangat berpengaruh dalam kesehatan seseorang, terutama dalam penerapan
PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) baik dilingkungan pribadi, keluarga,
maupun masyarakat.
Perilaku
Hidup Bersih & Sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan Atas dasar kesadaran sehingga hasil pembelajaran, yang menjadikan Seseorang
atau keluarga dapat menolong diri sendiri ,Di bidang kesehataan &
berperan-aktif dlm mewujudkan ,Kesehatan masyarakatnya.
Perilaku hidup
bersih dan sehat (PHBS) merupakan langkah yang harus dilakukan untuk mencapai
derajat kesehatan yang optimal bagi setiap orang. Kondisi sehat tidak serta
merta terjadi, tetapi harus senantiasa kita upayakan dari yang tidak sehat
menjadi hidup yang sehat serta menciptakan lingkungan yang sehat. Upaya ini
harus dimulai dari menanamkan pola pikir sehat yang menjadi tanggung jawab kita
kepada masyarakat dan harus dimulai dan diusahakan oleh diri sendiri. Upaya ini
adalah untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat setinggi-tingginya sebagai
satu investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif. Dalam
mengupayakan perilaku ini dibutuhkan komitmen bersama-sama saling mendukung
dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat khususnya keluarga sehingga
pembangunan kesehatan dapat tercapai maksimal.
2.2 PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat)
a.
TUJUAN
PHBS : PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat) memiliki tujuan yaitu
meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan masyarakat agar
hidup bersih dan sehat serta masyarakat termasuk swasta dan dunia usaha
berperan serta aktif mewujudkan derajat kesehatan yang optimal.
b.
TATANAN
PHBS
A.
Sepuluh
Indikator PHBS di Tatanan Rumah Tangga:
1.
Persalinan
ditolong oleh Tenaga Kesehatan.
2.
Memberi
bayi ASI eksklusif.
3.
Menimbang
bayi dan balita.
4.
Mencuci
tangan dengan air bersih dan sabun.
5.
Menggunakan
air bersih.
6.
Menggunakan
jamban sehat.
7.
Memberantas
jentik di rumah.
8.
Makan
sayur dan buah setiap hari.
9.
Melakukan
aktivitas fisik setiap hari.
10. Tidak merokok di dalam rumah.
B.
Indikator
PHBS di Tatanan Sekolah :
1.
Mencuci
tangan dengan air bersih mengalir dan sabun.
2.
Mengkonsumsi
jajanan di warung /kantin sekolah
3.
Menggunakan
jamban yang bersih dan sehat.
4.
Olahraga
yang teratur dan terukur.
5.
Memberantas
jentik nyamuk.
6.
Tidak
merokok.
7.
Menimbang
berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan.
8.
Membuang
sampah pada tempatnya.
C.
Indikator
PHBS di Tatanan Tempat Kerja :
1.
Kawasan
tanpa asap rokok.
2.
Bebas
jentik nyamuk.
3.
Jamban
sehat.
4.
Kesehatan
dan keselamatan kerja
5.
Olahraga
teratur.
D.
Indikator
PHBS di Tatanan Tempat Umum :\
1.
Menggunakan
jamban sehat.
2.
Memberantas
jentik nyamuk.
3.
Menggunakan
air bersih.
E.
Indikator
PHBS di Tatanan Fasilitas Kesehatan :
1.
Menggunakan
air bersih.
2.
Menggunakan
jamban yang bersih dan sehat.
3.
Membuang
sampah pada tempatnya.
4.
Tidak
merokok.
5.
Tidak
meludah sembarangan.
6.
Memberantas
jentik nyamuk.
Namun
yang akan dibahas disini adalah “Penerapan PHBS Ditatanan Pelayanan Kesehatan”
2.3
PHBS di Tatanan Pelayanan Kesehatan
Institusi kesehatan adalah sarana
yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta atau perorangan yang digunakan
untuk kegiatan pelayanan kesehatan bagi masyarakat, seperti rumah sakit, puskesmas, dan klinik swasta.
PHBS di institusi kesehatan
merupakan upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat pengunjung, dan petugas
agar tahu, mampu, dan mampu mempraktikkan hidup perilaku hidup bersih dan sehat
serta berperan aktif dalam mewujudkan intitusi kesehatan ber-PHBS.
PHBS
di Pelayanan Kesehatan sangat diperlukan sebagai salah satu upaya untuk
mencegah penularan penyakit, infeksi nosokomial dan mewujudkan Institusi
Kesehatan yang sehat. Syarat institusi sehat yaitu :
1.
Menggunakan
air bersih
2.
Mencuci
tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
3.
Menggunakan
jamban
4.
Membuang
sampah pada tempatnya
5.
Tidak
merokok di Institusi Kesehatan
6.
Tidak
meludah sembarangan
7.
Memberantas
jentik nyamuk
2.3.1 Perlunya
Pembinaan PHBS di tatanan Pelayanan Kesehatan :
Peningkatan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Institusi Kesehatan sangat diperlukan
sebagai salah satu upaya untuk mencegah penularan penyakit dan mewujudkan
Institusi KesehatanSehat.Oleh karena itu, sudah seharusnya semua pihak ikut
rnemelihara, menjaga dan mendukung terwujudnya Institusi kesehatan Sehat.
1.
PHBS
di institusi kesehatan
PHBS
di Institusi Kesehatan adalah upaya untuk memberdayakan pasien, masyarakat
pengunjung dan petugas agar tahu, mau dan mampu untuk mempraktikan Perilaku
Hidup Bersih dan Sehat dan berperan aktif dalam mewujudkan Institusi Kesehatan
Sehat.
2.
Tujuan,
Sasaran, dan Manfaat PHBS di Tatana Pelayanan Kesehatan Tujuan PHBS di Tatanan
Pelayanan Kesehatan:
a.
Mengembangkan
perilaku hidup bersih dan sehat di institusi kesehatan.
b.
Mencegah
terjadinya penularan penyakit di institusi kesehatan.
c.
Menciptakan
Institusi kesehatan yang sehat.
3.
Sasaran
PHBS di Tatanan Pelayanan Kesehatan:
a.
Pasien.
b.
Keluarga
Pasien.
c.
Pengunjung.
d.
Petugas
Kesehatan di institusi kesehatan.
e.
Karyawan
di institusi kesehatan.
4.
Manfaat
PHBS di Tatanan Pelayanan Kesehatan:
1)
Bagi
Pasien/Keluarga Pasien/Pengunjung :
a.
Memperoleh
pelayanan kesehatan di institusi
b.
Kesehatan
yang sehat.
c.
Terhindar
dari penularan penyakit.
d.
Mempercepat
proses penyembuhan penyakit dan
e.
Peningkatan
kesehatan pasien.
2)
Bagi
Institusi Kesehatan :
a.
Mencegah
terjadinya penularan penyakit di institusi kesehatan.
b.
Meningkatkan
citra institusi kesehatan yang baik sebagai tempat untuk memberikan pelayanan
kesehatan dan pendidikan kesehatan bagi masyarakat.
3)
Bagi
Pemerintah Daerah :
a.
Peningkatan
persentase Institusi Kesehatan Sehat menunjukkan kinerja dan citra Pemerintah
Kabupaten/Kota yang baik.
b.
Kabupaten/Kota
dapat dijadikan pusat pembelajaran bagi daerah lain dalam pembinaan PHBS di
Institusi Kesehatan.
2.3.2 Dukungan
untuk PHBS di Tatanan Pelayanan Kesehatan (PHBS)
di
Institusi Kesehatan dapat terwu-jud apabila ada keinginan dan kemampuan dari
para pengambil keputusan di lingkungan pemerintah daerah, institusi kesehatan
dan lintas sektor terkait , Beberapa contoh perilaku di atas terlihat sangat
sederhana, seperti halnya pengertian PHBS sendiri yang terasa begitu mudah
dimengerti, namun diperlukan ketekunan dan kedisiplinan dalam penerapannya. Untuk
mengoptimalkan promosi tersebut maka para provider kesehatan yang memiliki
andil terbesar untuk menyadarkan masyarakat. Diharapkan untuk terus berkreasi
mensosialisasikan pentingnya perilaku yang tepat pada masyarakat.
2.4
Promosi Kesehatan
Promosi
kesehatan/pendidikan kesehatan merupakan cabang dari ilmu kesehatan yang
mempunyai dua sisi, yakni sisi ilmu dan sisi seni. Dilihat dari sisi seni,
yakni praktisi atau aplikasi pendidikan kesehatan adalah merupakan penunjang
bagi program-program kesehatan lain. Ini artinya bahwa setiap program kesehatan
yang telah ada misalnya pemberantasan penyakit menular/tidak menular, program perbaikan
gizi, perbaikan sanitasi lingkungan, upaya kesehatan ibu dan anak, program
pelayanan kesehatan dan lain sebagainya sangat perlu ditunjang serta didukung
oleh adanya promosi kesehatan.
Promosi
kesehatan bukanlah hanya proses penyadaran masyarakat atau pemberian dan
peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan semata, akan tetapi di
dalamnya terdapat usaha untuk dapat memfasilitasi dalam rangka perubahan
perilaku masyarakat. Dalam hal ini organisasi kesehatan dunia WHO telah
merumuskan suatu bentuk definisi mengenai promosi kesehatan : “Health promotion
is the process of enabling people to increase control over, and improve, their
health. To reach a state of complete physical, mental, and social, well-being,
an individual or group must be able to identify and realize aspirations, to
satisfy needs, and to change or cope with the environment“. (Ottawa
Charter,1986).
Jadi, dapat
disimpulkan dari kutipan tersebut diatas bahwa Promosi Kesehatan adalah proses
untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang sempurna, baik
fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal serta
mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi
lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).
Visi
dari Promosi Kesehatan yaitu meningkatnya kemampuan masyarakat untuk memelihara
dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik, mental, dan sosialnya sehingga
produktif secara ekonomi maupun sosial.
Misi dari Promosi Kesehatan yaitu :
1.
Advokat
: Melakukan kegiatan advokasi terhadap para pengambil keputusan di berbagai
program dan sektor yang terkait dengan kesehatan.
2.
Menjembatani
: Menjadi jembatan dan menjalin kemitraan dengan berbagai program dan sektor
yang terkait dengan kesehatan.
3.
Meningkatkan
: Memberikan kemampuan atau keterampilan kepada masyarakat agar mereka mampu
memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri secara mandiri.
Aspek Penting dalam Kesehatan
a)
Lingkungan
b)
Perilaku
c)
Kesehatan
|
|
Manajemen
Peningkatan PHBS
|
|||||
![]() |
|||||
|
p
BAB III
PENUTUP
3.1
KESIMPULAN
PHBS
adalah semua perilaku kesehatan yang dilakukan atas kesadaran, sehingga keluarga beserta semua yang ada di
dalamnya dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif
dalam kegiatan-kegiatan kesehatan di masyarakat. Perilaku Hidup Bersih dan
Sehat (PHBS) Antara lain :
a.
Mandi
dua kali sehari dengan sabun mandi.
b.
Menggosok
gigi sehabis makan dan waktu akan tidur.
c.
Buang
air besar dijamban/WC
d.
Mencuci
tangan setelah buang air besar & sebelum makan dengan sabun
e.
Membuang
sampah ditempat sampah
f.
Mengganti
pakaian sekali sehari dan pakaian jangan tetrlalu sempit
g.
Pakaian
dicuci sampai bersih dengan sabun cuci
h.
Memetong
kuku setiap minggu
i.
mencuci
rambut minimal dua kali seminggu atau setiap kali rambut kotor
j.
Tidur
dengan waktu yang cukup
Promosi
Kesehatan adalah proses untuk meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya. Selain itu untuk mencapai derajat kesehatan yang
sempurna, baik fisik, mental, dan sosial, maka masyarakat harus mampu mengenal
serta mewujudkan aspirasinya, kebutuhannya, dan mampu mengubah atau mengatasi
lingkungannya (lingkungan fisik, sosial budaya dan sebagainya).
3.2 SARAN
Sebagai
Mahasiswa keperawataan kita bisa menerapkan Perilaku Hidup bersih dan Sehat
(PHBS) di lingkungan rumah dan lingkungan kampus , sebagai aplikasi penerapan
PHBS . sebagai tenaga kesehataan juga kita bisa melakukan penyuluhan sebagai
media Promosi untuk meningkatkan kualitas di instansi dan membantu meningkatkan
kesehatan .
DAFTAR PUSTAKA
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat. 2011.
(Online), (http://www.perdhaki.org/content/perilaku-hidup-bersih-dan-sehat ,diakses
pada 19 November 2015)
Pusat Promosi Kesehatan. 2012. Promosi
Kesehatan Dalam Pencapaian Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). (Online),(http://www.promosikesehatan.com/?act=program&id=12
,diakses pada 19 November 2015)
Promosi Kesehatan. (Online),
(http://id.wikipedia.org/wiki/Promosi_kesehatan ,diakses pada 19 November 2015)
Langganan:
Komentar (Atom)
